AstridSeptaviani's Blog

Perempuan yang peduli perempuan

Sabtu Kelabu

“Kamu terlambat dua jam,” katanya datar, tanpa penekanan emosi. Ia hanya melihatku sekilas. Mungkin saat ini, ponselnya memang jauh lebih menarik dibanding kehadiranku.

“Maaf… pekerjaanku belum selesai,” kataku penuh penyesalan.

Ia mengangkat tangannya, memberi tanda siap memesan.

“Saya pesan yang ini, dan minumnya yang ini,” katanya menunjukkan buku menu kepada pegawai resto. Ia memilih menu yang biasanya aku pesan. “Dua ya mas, sama saya,” pintaku.

“Tadi kan aku sudah minta dibatalkan, tapi kamu tetap mau menungguku,” protesku. Padahal aku yang terlambat, tapi aku yang protes. Sesekali bela diri, tak apalah.

“Sudah selesai pekerjaanmu? Tanyanya, mengabaikan pembelaan diriku. Kujawab dengan gelengan kepala.

“Hari ini sepertinya berjalan dengan kurang menyenangkan ya? Ia meneruskan pertanyaannya. Kali ini aku menganngguk, “Sabtu yang kelabu,” jawabku.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

Dari beberapa sahabat yang kumiliki, cuma dia yang bersedia menjadi satu-satunya pendengarku. Bukan karena nyaman, melainkan karena ancamannya. Pernah suatu sore, kami tak saling bicara. Katanya, ia tak akan mengeluarkan sepatah katapun sebelum aku yang lebih dulu cerita.

“Biar hatimu sehat. Bahaya kalau dia terlalu penuh menyimpan semua ceritamu. Aku penjaga rahasia yang paling baik kok,” katanya saat itu. Maka, sejak saat itu, aku harus jadi yang pertama bercerita, atau tak ada suara sama sekali yang mewarnai pertemuan kami berdua. Ia bahkan menolak membahas film, tempat berlibur, atau makanan enak yang menjadi topik favoritnya.

Dulu sekali, aku pernah memohon pada Tuhan untuk diberikan seorang teman yang baik, yang tulus. Mungkin saat itu aku merasa lelah dengan sepi yang menyelimutiku sejak kecil. Sepertinya, dialah jawaban dari doaku.

“Tiga hari ini kami lembur. Berangkat lebih pagi dari para siswa, dan harus pulang sangat larut, bahkan menjelang pergantian hari. Sabtu ini, kami harus ngantor lagi,” aku menarik napas dalam-dalam, sembari memandang pesanan kami yang baru saja tiba.

Dia menyeruput lemon tea pesanannya. Wajahnya tak terlihat kesal, padahal sudah menungguku dua jam. Tiba-tiba aku merasa menyesal, “kali ini biar aku yang traktir. Penebus dosa keterlambatanku,” ucapku. Dia menggeleng.

“Aku yang mau menunggumu kok, tapi kalau kamu maksa, okelah…” ujarnya diikuti cengiran nakal. Aku tertawa, “dasar!” kataku.

“Terus, kisah sedihnya dimana? Kamu kurang tidur gitu? Dasar tukang tidur!” kali ini dia mulai meledekku.

“Bukan! Lembur sudah biasa buatku, tapi mungkin belum biasa buat teman-temanku,” dia mencondongkan tubuhnya ke depan, bersiap mendengarkan ceritaku.

“Kamu tahu? dua ibu-ibu muda yang duduk di depanku, begitu sampai kantor langsung cerita silih berganti, mereka bertengkar dengan suami masing-masing. Nggak cuma suami, anaknya yang masi balita juga ikut-ikutan ngambek. Bayi jaman sekarang…” aku kembali menghirup udara sekitar dalam-dalam.

Ia mengambil tissue, dan mengelap sendok dan garpu, lalu memberikannya padaku. Ia tak ingin makanan yang kami pesan keburu dingin.

“Lalu?” katanya sembari memainkan garpu dan sendok di atas makanannya.

“Bu Dewi gagal berlibur ke Malang, karena harus masuk hari ini. Semalam, suaminya ngambek dan lebih memilih tidur di rumah ibunya. Hari ini, suaminya pergi ke Malang seorang diri. Sedih banget kan kalau kita yang diperlakukan seperti itu oleh suami sendiri?”

“Calon suami lebih tepatnya,” katanya memotong ceritaku. Aku mengabaikan kata-katanya dan meneruskan ceritaku.

“Pria paling ganteng di sebelahku, Pak Darma, dari kemarin terlihat gelisah menghadapi rumusan angka-angka di layar komputernya. Ternyata, ada sanak keluarganya yang dirawat di rumah sakit. Aku tadi curi dengar saat dia menerima telepon dari keluarganya. Mungkin, seharusnya hari ini menjadi jadwal jaganya,” aku menyendok makananku dan melahapnya. Rasanya tak seenak biasanya. Mungkin makanan ini turut bersedih mendengarkan ceritaku.

“Bagaimana dengan bosmu?” tanyanya sambil mengunyah.

“Tak kalah menyedihkan. Kamu tahu? dia semalam memotret Arum yang lagi menghadap. Katanya, Bima yang minta. Aku yakin itu bukan Bima yang minta, tapi papa-nya Bima yang nggak percaya sama istrinya,” aku menyeruput lemon tea-ku.

Aku pernah ‘terpaksa’ mendengar obrolan atasanku dengan anak bungsunya itu. Bima, tipe anak yang mandiri dan pengertian. Ketika ibunya bilang masih bekerja, ia tak banyak menuntut. Itu kenapa atasanku sangat sayang dengan si bungsu. Sudah pengertian, cerdas pula. Pandai menjaga nama baik keluarga.

“Aku bersyukur, aku belum bersuami. Bersyukur sekaligus khawatir. Apa nanti Tuhan akan memasangkanku dengan pria yang pengertian atau pria yang hobi mencari perhatian?” tanyaku sedih.

“Kok jadi pesimis gitu?”

Suasana menjadi hening. Mungkin dia juga merasakan kekhawatiran yang sama denganku. Bertanya-tanya, dengan siapa dia akan berjodoh? Aku memahami alasannya belum menikah hingga detik ini.

Dia merasa takut dengan paradigma kebanyakan orang, bahwa pernikahan merupakan sebuah kehidupan yang baru. Ibarat buku, dia adalah lembaran yang baru, bab yang baru.

Ketakukan terbesarnya adalah bab baru yang tak berkaitan dengan bab lama. Dia tak akan rela melepas apa yang sudah dimilikinya saat ini. Mimpi, cita-cita, rencana, harapan, kebiasaan sehari-hari, dan aktifitas lainnya.

“Aku belum siap bila harus melepas semuanya untuk hidup bersama seseorang. Aku mencintai kehidupanku yang sekarang. Pekerjaanku, hobiku, dan lainnya. Bisa bayangkan kalau aku harus melepas salah satunya saja? Bagaimana mungkin hidupku masih penuh warna, sekalipun aku dipenuhi cinta,” katanya kala itu.

Apa yang dia takutkan, sebenarnya juga menjadi ketakutanku. Aku takut kehilangan cerita yang sudah menemani sepanjang masa lajangku. Cerita yang penuh warna dan membuatku menjadi lebih hidup, lebih berarti.

“Laksmi seharian ini ditelepon oleh ibunya,” ujarku mencoba memecahkan hening yang menyiksa.

“Kenapa?”

“Dia kan tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Jadi, ya cuma hari Sabtu, dia bisa menghabiskan waktu bersama ibu kandungnya. Pastinya ibunya rindulah. Bayangkan, mereka hanya punya satu hari dalam seminggu, eh.. harus terpotong lembur sampai sore,”

“Namanya juga seorang ibu ya? Selalu rindu menghabiskan waktu bersama anak perempuannya,” ucapnya dengan suara yang aneh, karena dia bicara sambil mengunyah makanan.

“Sama seperti aku dan mama,” gawat, aku rindu mama. Gumamku dalam hati.

“Ya sudah.. nggak usah sedih lagi, nanti kita main aja di taman hiburan,” ajakannya terdengar seperti ajakan ke anak kecil.

“Nggak ah! Aku mau tidur aja. Capek!”

“Okay, nggak usah pakai emosi juga bilangnya.”

“Kalau nanti aku sudah menikah, mau kah kamu tetap menghiburku bila aku bertengkar dengan suamiku?” ia mengangguk cepat.

“Mau kah kamu tetap mendengarkan ceritaku yang mungkin akan membosankan untukmu?”

“Pasti mau.”

“Kalau sudah menikah nanti, aku masih bisa lembur nggak ya? Eh! Apa perempuan yang suka lembur seperti atasanku selalu identik sebagai istri yang kurang bahagia?”

“Hah? Rumus darimana?”

“Dari orang-orang. Mereka menyimpulkan, perempuan yang lebih suka di kantor itu sebenarnya untuk menghindari ketidakharmonisan dalam keluarganya. Padahal kan sangat mungkin, mereka memiliki rasa cinta dan tanggung jawab yang besar di kantor?”

“Kenapa dari tadi pusing mikirin omongan orang sih?”

“Karena aku takut kehilangan apa yang aku miliki sekarang: bahagia yang kupilih sendiri,” aku membalik sendok dan garpuku. Lagi-lagi, aku tak menghabiskan makananku.

Kupandangi lampu taman di sudut jendela resto yang memancarkan sinar keemasan. Terkesan romantis, elegan, tapi sekaligus sunyi. Hatiku merasa ngilu dibuatnya. Mungkin seperti itulah kehidupan perempuan dalam pernikahan. Ia menjadi penerang yang berjasa, penyeimbang suasana rumah, sekaligus pribadi yang sunyi menutupi kesedihannya.

“Kamu tahu? Bu Dewi memutuskan untuk kembali pada suaminya setelah satu tahun gagal memperjuangkan perpisahan. Demi apa? demi anak. Setelah menikah lagi dengan suaminya, aku tak melihat binar mata yang bahagia seperti dulu,” aku menyedot habis lemon tea-ku. Mencoba mengisi energiku dengan minuman itu.

“Di satu sisi, dia tak perlu lagi berjuang sendirian menghadapi kehidupan. Aku masih ingat betapa bingungnya dia ketika si bungsu mau tampil menari, si sulung minta sepatu basket baru, dan si tengah yang berlagak seperti anak nomor satu yang mengayomi adiknya,” aku menarik napasku dalam-dalam, mencoba menstabilkan perasaanku sendiri.

“Setiap kali dia mengambil cuti, hanya digunakan untuk kepentingan anak-anaknya. Bukan untuk diri sendiri. Kini, dia bisa lebih merasa lega. Ada suami yang bisa membantunya merawat si kecil. Mulai antar jemput sekolah, membelikan semua perlengkapan sekolah, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” kali ini dia yang membalikkan sendok garpunya. Makanannya telah tandas, bersih seperti piring baru. Remahan nasi pun tak terlihat.

“Tapi di sisi lain, dia harus memenuhi berbagai tuntutan suaminya. Pindah ke rumah yang jaraknya satu jam dari kantor, selalu ada untuk suami, dan selalu siap menerima omelan-omelan suaminya yang agak kasar itu. Kenapa kenyataan yang kulihat, pernikahan lebih banyak menghasilkan kesedihan yang perih dan pilu? Kenapa pernikahan tidak menghasilkan kebahagiaan yang menguatkan seperti dongeng-dongeng itu?” tanyaku dengan bibir bergetar.

“Untukmu, aku selalu mendoakan pernikahan yang melahirkan kebahagiaan yang melengkapi hidupmu, dan dijauhkan dari pernikahan yang menghasilkan kesedihan yang perih,” ucapnya sembari menggenggam tanganku. Seiris senyum penuh ketulusan dan tatapan mata yang menguatkan terpancar dari wajahnya.

“Terima kasih,” jawabku dengan senyum yang manis.

 “Sama-sama. Sekarang temani aku nonton, supaya sabtu kelabu-mu berubah menjadi sabtu yang seru,” matanya mengerling manis.

 Setiap kebersamaan kita selalu menjadi waktu yang seru kok. Ucapku dalam hati.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 19, 2017 by in Perempuan dan Sosial Sekitarnya, Refleksiku.

Navigasi

The Date Of Today

Februari 2017
S S R K J S M
« Des    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Cari Tulisan Berdasarkan Bulan

Contact My YM

%d blogger menyukai ini: