AstridSeptaviani's Blog

Perempuan yang peduli perempuan

Me Time di Bali

Pernah terbesit dalam benak saya, untuk sesekali melakukan perjalanan tanpa perencanaan. Sepertinya sih seru..  Walau sudah menggoda pikiran, hati saya belum tertarik untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. Namun, siapa sangka semesta menginginkannya untuk segera terwujud. Benar kata orang, kita memang harus berhati-hati dengan apa yang kita pikirkan.

Singkat cerita, saya merencanakan perjalanan ke Bali selama dua hari. Hari pertama untuk bergabung dalam diskusi Ubud Writers & Readers Festival, hari kedua untuk keliling sekitar Ubud. Seperti perjalanan sebelum-sebelumnya yang rapi terencana, saya pun membuat RAB (Rancangan Anggaran Biaya), rundown, dan list barang yang harus dibawa.

Tiket sudah saya pesan 3 bulan sebelumnya malah, sewa motor sudah saya booking H-14. Karena semua sudah beres, maka saya pun pergi dengan tenang. Awal perjalanan berjalan lancar, tapi begitu kaki menjejak di tanah Dewata, berbagai kekacauan pun muncul bertubi-tubi.

Pertama, rental motor yang saya pesan nggak datang-datang. Janji jam 7 pagi, tapi jam 08.30 baru mau meluncur.  Demi mengejar panel diskusi yang sangat ingin saya ikuti, saya pun memutuskan untuk memesan jasa transportasi online.

Saya meminta pak drivernya untuk lebih cepat. Sampai di Neka Art Museum tepat jam 09.30. Lumayan, masih bisa ikut nimbrung 45 menit. Salah dua idola saya, Desi Anwar dan Leila S.Chudori menjadi panelis diskusi tsb.

Kekacauan berikutnya ketika saya menelepon rental, meminta mereka untuk mengantarkan motor ke Ubud, mereka menolak karena terlalu jauh. Kan asem? Untung aja di dekat Neka Art Museum banyak rental motor. Jadilah saya menyewa di Ubud, dengan risiko harus mengembalikan motor di Ubud, nggak bisa di bandara. Karena mereka memang menyewakan khusus untuk wilayah Ubud dan sekitarnya yang terdekat.

Hari pertama, selain mengikuti beberapa panel diskusi UWRF yang seru dan update, saya sempat mampir ke Goa Gajah dan Pasar Seni Ubud. Nah, bagian yang ini baru sesuai rencana.  Komplek Goa Gajah ini cukup mengesankan buat saya. Saya seperti disambut oleh para dewi di pemandian.

Pemandian di depan Goa Gajah

Pemandian di depan Goa Gajah

Tepat di seberangnya, sebuah goa yang tampak megah menyapa dengan gagah. Saya pikir, goa ini dalam, ternyata mungil. Mungkin hanya 10 langkah. Di dalamnya terdapat simbol/arca Siwa dan kalau nggak salah ingat, ada arca Ganesha juga. Karena pencahayaan yang kurang, saya nggak ambil gambar.

Pintu masuk Goa Gajah

Pintu masuk Goa Gajah

Dari Goa Gajah, saya memilih menaruh barang di hotel yang lokasinya agak jauh dari jalan Raya Ubud. Saya memang pengen cari yang agak sepi, tapi saya nggak nyangka hotelnya ada di atas, yang akses jalannya lumayan.. serem untuk kendaraan roda dua. Namun, karena suasana sekitar yang  cukup asri, kengerian itupun terbayarkan.

Setelah cukup beristirahat dan makan siang, saya kembali ke panel-panel di UWRF. Niat awalnya sih pengen nongkrongin malam sastra UWRF, tapi karena hujan, dan membayangkan jalan di dekat hotel yang cukup menyeramkan, saya memutuskan untuk istirahat saja di hotel. Daripada motor saya nggak kuat naik di atas aspal yang basah kan? Dan saking asiknya mendengarkan diskusi, saya lupa ambil gambar -_-‘

Untuk hari kedua di Bali, saya berencana mengunjungi  2 tempat di Bali Tengah, dan  4 tempat di Bali Selatan. Tapi karena, motor yang saya sewa harus dikembalikan ke Ubud, maka bayangan manis plesir di Bali Selatan pun harus pupus. Ya sudahlah ya, mau gimana lagi? Di-asyikin aja lah ya..

Tujuan pertama, Candi Gunung Kawi di daerah Tampaksiring. Sebagai pecinta candi dan tempat-tempat ibadah, maka wajib hukumnya untuk mengunjungi Candi ini, selain beberapa Pura yang tersebar di sepanjang perjalanan tentunya. Jarak Candi Gunung Kawi dari hotel saya hanya sekitar 11 km. Ah, deketlah ya.. Jarak rumah-kantor juga 11 km kok.

img_4054

Kawasan Candi Gunung Kawi

Kawasan Candi Gunung Kawi

Karena saya langsung checkout (nggak kebayang harus lewat jalan terjal untuk balik ke hotel), maka saya pun harus menggendong si bayi (tas backpack) kemana-mana.  Awalnya saya pikir, lokasi candi ini di atas bukit, karena postingan di social media menggambarkan keberadaannya di antara perbukitan. Jadi, saat melihat tangga turun, saya masih berpikir, turunnya nggak jauh. Ternyata… saya harus menuruni 280 anak tangga! Oke sip!

Pas turun sih masih enak ya, nggak begitu terasa lelah. Saya pun asyik menjelajah setiap sudut kawasan candi dengan sombongnya. Lah gimana nggak keasyikan, lawong lokasinya di tengah sawah dan bukit.  Apalagi suasana kawasan candi yang sakral, suci, sunyi dan klasik. Bikin hanyut perasaan.

View di samping kawasan Candi Gunung Kawi

View di samping kawasan Candi Gunung Kawi

Begitu puas dan mulai lelah menjelajah setiap sudut, kembalilah saya ke atas. Nah, di sini perjuangan dimulai. Saya harus naik 280 anak tangga sambil menggendong backpack, fiuhhhhh,,,, kerasa deh gempornya. Bapak-bapak di pintu masuk sampai tertawa liat saya engos-engos-an. Sungguh tega!

Walau sampai di atas dengan perjuangan dan mandi keringat, untuk pecinta candi seperti saya, perjuangan saya worth it lah.. Kalau kamu pecinta candi dan pengen berkunjung ke sini, maka siapkan stamina untuk naik dan turun tangga. Tangganya nggak saya foto, sibuk ngatur nafas euy..

Perjalanan berikutnya ke Desa Adat Penglipuran. Beberapa kali ke Bali, selalu gagal mampir ke desa ini. Bukannya nggak sempat atau malas karena jauh, tapi karena teman seperjalanan yang nggak tertarik. Ya, hukumnya liburan bersama itu kan musyawarah mufakat ya? Kudu ngalah demi mencapai kemufakatan yang hakiki. Kalau nggak, ya nggak bakal seru liburanmu.

Mumpung saya liburan sendirian, saya kejarlah impian saya *halah. Saya belah hutan dan sawah yang saya lewati sepanjang 22 km demi mencapai desa ini. GPS nya sempat ngawur, saya nyasar di pasar tradisional yang jaraknya masih 10 km lagi dari Desa Penglipuran. Jurus kedua kalau kesasar ya tanya warga setempat.

Setelah naik ke bukit, meliuk-liuk di antara ketinggian, dan menghirup oksigen yang melimpah ruah, sampailah saya di tujuan impian saya. Kesan pertama? Pastinya jauhhhhh cyin! Kesan kedua, amboy… ciamik soro! Nggak nyesel deh jauh-jauh ke sini.

img_4088

Suasana Desa Adat Penglipuran

img_4099

Desanya rapi banget. Pagarnya dibuat seragam. Di setiap pagar, selain ada nomor rumah, kita bisa melihat siapa saja yang menghuni rumah itu. Sama seperti rumah adat Bali pada umumnya. Dalam satu pagar, ada beberapa bangunan dengan fungsinya sendiri-sendiri. Ada yang berfungsi sebagai dapur, tempat penyimpanan bahan makanan, dan lain sebagainya.

Keterangan daftar penghuni di setiap pagar rumah penduduk

Keterangan daftar penghuni di setiap pagar rumah penduduk

img_4105

Selain tempat tinggal, tentu saja ada Pura di desa ini. Seperti diketahui, Pura merupakan bangunan yang wajib ada di setiap desa di Bali. Sama seperti masjid di perkampungan umat muslim di Indonesia. Di parkiran wisata untuk motor, ada semacam balai desa. Jadi bener-bener desa pada umumnya, Cuma memang dibuat lebih rapi, lebih Bali lah istilahnya.

Balai Desa Adat Penglipuran

Balai Desa Adat Penglipuran

Setelah itu, saya kembali ke Ubud untuk mengembalikan motor, dan menggunakan jasa transportasi online ke bandara.

Ini kali kedua saya melakukan perjalanan sendirian (solo backpacking). Solo backpacking pertama ke Semarang berjalan sesuai rencana. Saya happy. Perjalanan kali ini banyak yang di luar rencana: rental motor yang batal, perjalanan ke hotel yang bikin dag-dig-dug, destinasi Bali Selatan yang harus pupus, dan jadwal penerbangan yang dipercepat. Tapi, justru dalam perjalanan ini saya merasa lebih berkesan.

Saya benar-benar kencan dengan diri saya sendiri. Saya berdiskusi dengan diri saya sendiri. Nggak cuma memanjakan pikiran dan fisik, tapi juga memanjakan hati. Mengikuti semua keinginannya walau nggak sesuai rencana.

Tuhan begitu baik telah menghadiahkan saya perjalanan yang penuh kejutan seperti ini. Walau kaki ini harus berjalan agak jauh demi bisa order transportasi online di Ubud, walau bahu harus berjuang sekuat tenaga menahan beban backpack, saya tetap merasa puas dan bahagia.

Sepertinya saya ketagihan untuk liburan sendiri (lagi). Kali ini, saya ingin pergi tanpa perencanaan. Apa yang terjadi di tempat tujuan akan saya nikmati, cukup dengan mendengarkan dan mengikuti apa yang hati saya inginkan.

Ada saran untuk saya, harus berlibur ke mana lagi? 😉

Iklan

2 comments on “Me Time di Bali

  1. sirikit
    November 6, 2016

    Lain.kali berdua sama aku yuk. Tapi yg gak pake ngos2an. Stamina gak nutupi. Tapi aku dijamin fun kok orangnya, suka mengalah dan rapi di kamar. Aku ingin ke Ubud. Sekian tahun lalu aku jadi pembaca puisi di Ubud Writer Festival dan tinggal di sbg hotel yg asri, estetis, murah.

    • Astrid Ayu Septaviani
      November 6, 2016

      Ayuk bu.. kita backpack berdua, yang deket2 aja bu, yang aksesnya gampang, biar ibu gak kecapekan 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 6, 2016 by in Perempuan dan Sosial Sekitarnya.

The Date Of Today

November 2016
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Cari Tulisan Berdasarkan Bulan

Contact My YM

%d blogger menyukai ini: