AstridSeptaviani's Blog

Perempuan yang peduli perempuan

Kecil di antara Keperkasaan Bromo

Sejujurnya saya bukan termasuk manusia yang suka dengan gunung. Beberapa kali memang saya main ke daerah pegunungan atau ke kaki gunung, tapi tak pernah terbesit dalam benak saya, apalagi hati saya untuk main ke puncak gunung, ya walaupun ketika kecil, saya suka sekali menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung.

Ada beberapa alasan kenapa saya kurang suka gunung. Pertama, saya nggak sanggup kalau harus bermalam di dalam tenda, pasti susah cari kamar mandi. Ribet kalau mau ke kamar mandi. Kedua, saya alergi dingin. Ditiup dinginnya pendingin ruangan aja kadang udah tepar, gimana kalau berselimutkan dinginnya udara gunung?

Hingga tibalah pada suatu masa (halah), dimana saya terpikir untuk menantang diri saya sendiri. Saya harus mampu menaklukan dinginnya udara gunung. Kebetulan, salah satu partner jalan-jalan saya juga ngajak ke Bromo, maka jadilah ini menjadi pengalaman pertama saya berkunjung ke Bromo, sekaligus menikmati panorama dari puncak gunung.

Malam minggu, ketika kota-kota besar seperti Surabaya dan Sidoarjo sedang ramai-ramainya, berisik-berisiknya, saya dan kelima teman saya membelah kebisingan itu, menuju Probolinggo, salah satu pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo selain Malang, Pasuruan, dan Lumajang.

Alasan milih Probolinggo, ya karena cuma ini jalan yang kami paham, kalau lewat kota lainnya nggak paham hehehe… Singkat cerita, kami tiba di meeting point dengan driver Jeep di Sukapura jam 01.30. Dari sini, perjalanan kami lanjutkan dengan Jeep yang kami sewa dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam menuju Cemoro Lawang (Penanjakan 1). Lama ya? Saya sampai ketiduran. Serem juga lihat kegelapan.

FYI, buat kamu yang menuju Bromo menggunakan mobil pribadi, wajib ganti Jeep. Menurut Mas driver, itu udah peraturannya. Selain poin keamanan, aku sih yakin ini juga demi mempercepat roda perekonomian warga sekitar, ya lewat penyewaan Jeep itu. Satu Jeep cukup memuat 6-7 orang, tergantung ukuran badan masing-masing.

Persis seperti tebakan saya, udaranya dingin pake banget! Tapi ajaibnya flu saya yang parah banget sedari pagi langsung mampet. Entah itu karena saking dinginnya atau karena saking segarnya udara Gunung Bromo, yang jelas pilek dan batuk saya sembuh total!

Oh ya, saya paham berada di tengah kepungan dinginnya Bromo memang nggak gampang, tapi mbok ya satu hari aja bersikap baik sedikit pada sesama. Tolong jangan rampas hak orang lain untuk menikmati keindahan dan kesejukan Bromo dengan asap rokok-mu dan keegoisanmu merekam sunrise sampai berdiri-berdiri menutupi yang lainnya.

Maklumlah, waktu saya ke sana memang pas weekend, jadi ya ramai banget. Siapa sih yang nggak pengen menikmati sunrise? Tapi kalau kamu memang benar-benar ingin menikmati sunrise, seharusnya kamu nggak sibuk merekam atau mengambil gambar, kamu seharusnya duduk tenang, dan membiarkan semua indera-mu merasakan keagungan Sang Pencipta.

Beberapa kali saya menikmati sunrise dari beberapa pantai di Indonesia, tapi selama saya menikmati, saya sama sekali tak mengambil gambar. Saya justru mengambil gambar, ketika matahari sudah menampakkan diri. Coba deh sekali-kali jadi penikmat keindahan alam yang sesungguhnya.

View setelah sunrise, dari Cemoro Lawang.

View setelah sunrise, dari Cemoro Lawang.

Buat kamu yang muslim, jangan khawatir. Di sebelah tempat untuk melihat sunrise, ada semacam pendopo yang dijadikan Musholla kok, jadi kamu masih bisa ibadah sambil berwisata. Setelah puas menikmati, kami melanjutkan perjalanan ke titik wisata lainnya.

Kami dibawa ke Padang Pasir. Sepanjang perjalanan, view-nya ciamik banget. Mata ini rasanya bener-bener dimanjakan dengan keindahan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata dan kalimat seindah apapun. Ini keindahannya.

img_3924

Jajaran bukit berlapis kabut di Padang Pasir.

img_3934

Tujuan selanjutnya, Savana dan Bukit Teletubies. Ini tempat favoritku! Hijau banget! Sejuk banget! Subhanallah bangetlah pokoknya. Rasanya pengen lama-lama di sini euy… Jajaran bukit berwarna hijau berselimut kabut putih yang menawan, ditambah dengan keramahan ilalang yang melambai-lambai mesra, aduh… rasanya pengen saya bawa pulang deh bukit-bukitnya. Di sini juga, saya mulai merasa tubuh saya sudah menyatu dengan kondisi alam yang berbeda dengan Surabaya. Rasa dingin sudah memudar, tak lagi menusuk-nusuk tulang seperti sebelumnya.

img_3956 img_3959 img_3984 img_3989

Tapi, karena kami harus menghemat waktu, kami pun bergeser ke Pasir Berbisik. Kalau dari cerita mas driver, nama aslinya Pasir Bersisik, sebab bentuk pasirnya yang seperti sisik. Karena penasaran, begitu sampai, saya langsung lihat pasirnya. Nggak bersisik kok, cuma memang lebih kasar aja. Wah pelanggaran nih mas-nya, ngasi info yang nggak valid.

Suasana Pasir Berbisik atau Pasir Bersisik

Suasana Pasir Berbisik atau Pasir Bersisik

img_3992

img_3993

img_3994

Pasirnya lebih kasar daripada pasir di kawasan lain Gunung Bromo

Perjalanan dari satu titik ke titik lainnya ini sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Menyenangkan karena sepanjang mata melihat, hanya ada hijau dan coklatnya bukit serta hamparan pasir yang luas pake banget. Melelahkan karena kami beberapa kali melewati ‘sungai’. Sungai di sini nggak ada airnya, cuma pasir, tapi bentuknya berupa jeglongan panjang, persis seperti sungai yang kering.

Ini sungai versi mini dan dangkal. Kalau yang sungai beneran, lebih lebar dan dalam.

Ini sungai versi mini dan dangkal. Kalau yang sungai beneran, lebih lebar dan dalam.

img_3950

img_3953

Ya kebayang dong, naik Jeep melewati medan pasir yang seperti itu. Rasanya pinggang… fiuh…

Jam 10 pagi, kami memutuskan untuk kembali ke Sukapura. Perjalanan kembali yang menyenangkan. Jajaran rumah penduduk yang bentuknya menyesuaikan kontur tanah, pasar sayur yang kecil tapi menjual sayur-sayuran segar, jajaran bukit yang hijau berhias kabut dan awan, birunya langit yang temaram, udara yang sejuk, aneka tumbuhan penuh warna yang subur, sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Setelah mandi, makan, dan lainnya, kami menuju Air Terjun Madakaripura. Ini kedua kalinya saya menyambangi Air Terjun yang cantik ini. Ada kisahnya yang belum sempat saya tulis di blog.

Konon, air terjun ini merupakan tempat petilsan terakhir Patih Gajah Mada sebelum menghilang. Kalau mau cerita yang lebih lengkap dan valid, browsing sendiri aja ya..

Jaraknya sekitar 5 km dari Sukapura. Untuk sampai ke air terjun ini, kamu harus parkir di parkiran depan, dan nyambung pakai ojek. Mau jalan kaki juga boleh, asal kuat aja, secara jaraknya 4 km sampai di depan tiket masuk. Nah, dari tiket masuk ini, kamu masih harus tracking lagi sekitar 1,5-2 km. Kira-kira sekitar setengah jam. Nggak usah khawatir, jalurnya sudah diaspal kok. Aman…

Sayang, karena datangnya terlalu siang, jadi kami diminta kembali, mau banjir kata pak petugas. Saran nih ya, ketika sampai di loket tiket masuk, coba tanya dulu, air terjunnya aman dikunjungi atau nggak, daripada kamu uda capek-capek jalan tapi hasilnya disuruh pulang. Kan serasa ditolak dosen masuk kelas, padahal perjuangan melawan macetnya ke kampus setengah mati.

Dari dua lokasi ini saya mengambil dua pelajaran yang berbeda. Dari Gunung Bromo, saya belajar bahwa kesejukan alam bisa menyembuhkan sakit flu saya, keindahannya yang sederhana bisa memukau siapapun yang melihatnya, termasuk saya yang nggak terlalu suka gunung.

img_3943

Sedangkan dari Air Terjun Madakaripura, saya belajar bahwa manusia sangatlah kecil dibanding alam yang perkasa. Nggak ada apa-apanya, nggak bisa melawan ketegasan alam. Sekali lagi, alam itu sederhana tapi perkasa. Dia nggak peduli perjuanganmu untuk menemuinya, kalau dia sudah memberi sinyal bahaya, maka kamu harus menjauhinya.

Bisa lihat barisan pengunjung yang berjalan? Kita kecil seperti semut :)

Bisa lihat barisan pengunjung yang berjalan? Kita kecil seperti semut 🙂 *Kawasan Air Terjun Madakaripura.

Jadi, jagalah alam. Jangan lakukan aktifitas yang membuatnya marah. Jangan lakukan aktifitas yang membuatmu tak bisa lagi merasakan kesederhanaannya yang memukau itu. Kalau memang kamu cinta alam, kamu datang bukan untuk merusaknya, kamu datang untuk menyatakan cintamu.

Dan demi cinta, seharusnya kamu bisa menahan diri dari mencemari udaranya dengan asap rokok, menahan diri untuk membuang sampah, menahan diri untuk tidak mengambil apa yang sudah tertanam dan menjadi miliknya, menahan diri untuk tidak meninggalkan coretan-coretan yang kekanak-kanakan.

 

Biaya Perjalanan:

Sewa Jeep di Sukapura (2 penanjakan)  : Rp. 900.000

Tiket masuk Bromo                                     : sekitar Rp. 40.000/orang.

Parkir Air Terjun Madakaripura              : Rp. 8.000/mobil.

Tiket Masuk Madakaripura                       : Rp. 11.000/orang.

Ojek Madakaripura                                     : Rp. 10.000/orang (one way).

 

Perlengkapan yang perlu dibawa:

Gunung Bromo: Jaket tebal, topi rajutan, sarung tangan, kaos kaki, sepatu, masker, syal.

Air Terjun Madakaripura: Jas hujan (pasti basah), sandal jepit (karena pasti turun ke sungai), plastik/casing pelindung camera/ponsel.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 2, 2016 by in Intermezo, Jalan-Jalan.

The Date Of Today

Oktober 2016
S S R K J S M
« Mei   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Cari Tulisan Berdasarkan Bulan

Contact My YM

%d blogger menyukai ini: