AstridSeptaviani's Blog

Perempuan yang peduli perempuan

Mengapa Harus (Mencela) Kartini?

Sumber: Wikipedia

Sumber: Wikipedia

Hari ini, 17 September merupakan hari meninggalnya RA.Kartini. Setelah 109 tahun meninggalnya RA.Kartini, saya masih sering menemukan beberapa artikel yang secara serius menanyakan “Mengapa Harus Kartini yang menjadi pahlawan? Mengapa bukan Keumala Hayati, Laksamana perempuan pertama dari Aceh? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? dan banyak lagi.  Hari ini, 109 tahun meninggalnya RA.Kartini, saya ingin mencoba menguak beberapa fakta tentang RA.Kartini.

Oh ya, saran saya, bacalah dulu buku tentang RA.Kartini atau kumpulan suratnya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Nanti Anda pasti tahu mengapa Kartini bisa menarik hati pemerintah Indonesia untuk memberi gelar pahlawan. Fakta pertama adalah beliau selalu menuliskan semua gagasannya. Inilah yang tidak dilakukan oleh Keumala Hayati maupun Cut Nyak Dien. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Jadi itu mengapa RA.Kartini masih terkenang hingga saat ini, karena tulisannya masih bisa kita baca. Gagasannya masih bisa kita selami, diskusikan bahkan perdebatkan. Tulisannya pula lah yang mengenalkan saya dengan sosok RA.Kartini. Dari tulisannya saya tahu, kalau selama ini beliau tak hanya menulis surat kepada para sahabatnya: Ny.Abendanon dan Stella. Beliau ternyata juga menulis surat usulan dan protes kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dan ini merupakan fakta kedua: Kartini gak cuma curhat ke para sahabatnya. Kartini juga berani menulis surat ke Pemerintah Hindia Belanda. Heii coba ingat, ini terjadi di tahun 1900-an, di usia beliau yang masih 20-an. Dan beliau perempuan. Adakah perempuan seberani beliau pada masa itu?  Jadi, fakta ini tak bisa diremehkan.

Surat pertama yang beliau tulis adalah surat permohonan pengajuan beasiswa untuk bersekolah ke Belanda. Lalu setelah beasiswa beliau disetujui, beliau merevisi dengan permohonan untuk bersekolah di Batavia saja (Jakarta). Karena surat balasan tak kunjung datang, Kartini memutuskan untuk menerima pinangan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang. Dan karena beliau sudah kadung memutuskan untuk menikah, maka beliau kembali menulis surat permohonan agar beasiswanya diberikan kepada Pemuda Salim (mungkin yang dimaksud adalah H.Agus Salim. Di buku karangan Tashadi, jelas menuliskan H.Agus Salim), pemuda dari Riau yang bercita-cita menjadi dokter.

Selain surat permohonan, RA.Kartini juga pernah menuliskan surat usulan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Surat  itu berisi usulan beliau agar di setiap sekolah Jawa dan Madura (saat itu belum ada Indonesia. Belum terjadi Sumpah Pemuda 1928), ditambahkan mata pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda ke dalam kurikulum. Beliau menyadari, semua buku dan koran yang beredar selalu menggunakan Bahasa Melayu dan Belanda, bukan bahasa Jawa. Jadi, bila penduduk pribumi tidak menguasai kedua bahasa itu, maka sia-sialah Ia menuntut ilmu. Percuma saja bisa membaca dan menulis, kalau tak paham dengan bahasa yang digunakan.

Setelah Kartini berusia di atas 20 tahun, Ia mulai sering mengiktui Ayahnya yang Bupati Jepara berkeliling ke pemukiman penduduk. Ayahnya memang dikenal sangat dekat dengan rakyat. Begitu tanggap dengan segala kejadian, mulai dari masalah pertanian hingga kebakaran. Dari kegiatan tersebut, Kartini mengetahui penderitaan rakyat. Dan ia sadar, semua disebabkan pendidikan rakyat yang rendah, sehingga tak berdaya dengan politik Belanda yang semena-mena. Merasa kesal, Kartini kembali mengirimkan surat kepada Pemerintah Hindia Belanda, meminta mereka menghentikan sistem politiknya yang merugikan masyarakat pribumi, membuat mereka semakin menderita dengan sistem tanam paksa-nya.

Selama ini beliau dinilai sebagai pejuang perempuan. Memang. Tapi tahukah Anda? setelah menikah dan pindah ke Rembang, Kartini tak hanya mendirikan Sekolah Gadis, Kartini juga mendirikan Bengkel Ukir Kayu untuk para pemuda Rembang. Guru ukir langsung didatangkan dari Jepara. Ide ini disambut baik oleh suaminya dan didukung sepenuhnya. Jadi, bisa disimpulkan, beliau memikirkan nasib rakyat, pemuda-pemudi, bukan hanya perempuan, dan anak perempuan semata.

Sebetulnya ada banyak fakta tentang Kartini, tapi saya rasa 3 fakta di atas sudah cukup untuk menjawab pertanyaan “Mengapa Harus Kartini?” RA.Kartini memang tidak berjuang di Medan Perang, tapi Ia berjuang di dunia pendidikan. Dengan segala keberanian dan keterbatasannya, Ia menulis surat protes kepada pemerintah Hindia Belanda. Coba bayangkan, tahun 1900, seorang anak gadis ke luar rumah adalah sebuah aib. Usia 12 tahun mereka sudah harus dipingit. Keputusan Ayahnya untuk mengajak Kartini dan dua adiknya berkeliling ke rumah penduduk saja sudah menimbulkan cemoohan pada masa itu. Tak heran bila kemudian Kartini mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan, dan memilih untuk menikah. Kartini sangat menyayangi Ayahnya, ia tak ingin Ayahnya menjadi bahan olokan kaum bangsawan.

Jadi bagaimana menurut Anda? Hari ini saja, kita masih menghadapi kasus Hak Asasi Manusia. Kemarin malam, aktifis perempuan dan AIDS Surabaya Esthi Susanti Hudiono melalui akun facebooknya mengeluhkan hal ini. Betapa manusia sekarang masih suka memberi stereotip pada kelompok manusia tertentu, baik dari segi gender, suku, agama, dan bangsa seseorang. Sudah lebih dari 100 tahun, kita  masih belum bisa berfikir jernih, dan lebih memilih menghakimi kelompok manusia tertentu, padahal lebih dari 100 tahun yang lalu, seorang perempuan bangsawan Jawa yang dibesarkan dengan kungkungan adat yang kurang manusiawi sudah berfikir tentang kesetaraan manusia (tak hanya gender).

Kartini pernah menulis dalam suratnya, dengan mengusulkan Bahasa Belanda ke dalam kurikulum bukan berarti Ia ingin menjadikan penduduk pribumi menjadi kebarat-baratan. Ia justru menulis dalam suratnya, Ia hanya ingin kita orang pribumi mengambil sisi positif setiap bangsa untuk kehidupan kita, karena memang semua manusia dilahirkan sama.

Terima kasih untuk gagasan dan tulisannya Ibu Kartini 🙂

2 comments on “Mengapa Harus (Mencela) Kartini?

  1. Adnan R
    April 21, 2015

    Hihi terlalu banyak mengada-ada. Jika si ayah memang dikenal sangat dekat dengan rakyat mengapa ia tidak dekat dengan anaknya sehingga ia tidak tahu anaknya menentang poligami?

    • Astrid Ayu Septaviani
      April 22, 2015

      Terima kasih komentarnya Mas Adnan, sejujurnya saya lebih suka menanggapi komentar yang mengajak diskusi 🙂 tapi sebagai tuan rumah, saya wajib bersikap baik pada tamu saya 🙂

      Saran saya, coba pelajari dulu buku Armin Pane, dan buku-buku tentang budaya Jawa sebelum masa Sumpah Pemuda, agar diskusi kita tidak mengada-ada atau terlalu jauh pembahasannya. Terima kasih untuk kunjungannya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 17, 2013 by in Perempuan dan Sosial Sekitarnya.

The Date Of Today

September 2013
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Cari Tulisan Berdasarkan Bulan

Contact My YM

%d blogger menyukai ini: